Di balik hamparan perbukitan hijau Cianjur, Jawa Barat, seorang pria bernama Setya Gustina Riwayat memandang ladangnya. Bukan sekadar hamparan tanah, baginya ladang itu adalah kanvas tempat ia melukis masa depan. Walaupun berlatar belakang pendidikan Ilmu Perdagangan Internasional tak menghalangi dirinya untuk beralih ke sektor pertanian.

Awalnya, gagasan Setya terdengar mustahil. Ia bertekad untuk tidak hanya menanam jagung, tetapi juga menghidupkan kembali tanahnya. “Bagaimana kita bisa swasembada jika tanah kita mati?” tanyanya pada diri sendiri. Ia pun tergerak menginisiasi pendirian Rumah Petani yang kemudian memelopori Asosiasi Petani Jagung Cianjur dan bercita-cita untuk mengangkat Cianjur swasembada Jagung pada tahun 2025.
Melalui kelompok tani, terutama petani jagung, Setya perlahan tapi pasti mengurai segala kendala dan keluhan di lapangan. Seperti pupuk langka, pupuk mahal, dan lain sebagainya. Kegiatan Setya dan kelompok tani tersebut membuat petani tertarik bergabung. Jika pada awal hanya mengembangkan sekitar 1,5-3 hektar, kini sudah mencapai 72 hektar lahan binaan. Belum ditambah lagi pola kemitraan dengan perusahaan. Total lahan jagung sekitar 135 hektar dan masih akan bertambah.
Ia terus mencatat, belajar, dan menyempurnakan metodenya. Ia sering menghabiskan malam-malamnya di perpustakaan digital, mempelajari ilmu-ilmu pertanian modern yang selaras dengan prinsip-prinsip konservasi.
Sebagai petani milenial, Setya berhasil mengembangkan jagung hibrida, yang ternyata semua unsur jagung bisa dimanfaatkan. Mulai dari batang hingga bonggol, semua bisa menghasilkan uang, dan tidak ada yang terbuang.
Atas upaya yang dilakukannya tersebut, Setya menerima penghargaan SATU Indonesia Tingkat Provinsi 2023 kategori Lingkungan.
Kabar tentang kesuksesan Setya menyebar dari mulut ke mulut. Setya dengan senang hati berbagi ilmunya, mengajari mereka cara membuat kompos dan mengaplikasikan sistem tanam ramah lingkungan.
Saat ini lahan yang digarap jumlahnya ada 86 hektare yang dikerjakan sama petani binaannnya yang berjumlah 600 orang.

Dari segi pemasarannya, Setya fokus pangsa peternakan, karena jagung yang ditanamnya adalah jagung hibrida buat pakan ternak. Selain itu, Setya juga mengembangkan jagung frozen untuk konsumsi dan sudah diekspor ke luar neger, seperti Amerika, Kuwait, Bahrain, dan Qatar.
Berkat kerja keras Setya memberi harapan di ladang jagung, para petani pun mengikutinya langkahnya, Cianjur berhasil memproduksi jagung dalam jumlah yang melimpah, jauh melebihi kebutuhan lokal. Pemerintah Provinsi Jawa Barat bahkan mengakui keberhasilan ini sebagai tonggak sejarah baru dalam ketahanan pangan. Mereka tidak hanya mencapai swasembada, tetapi mereka melakukannya dengan cara yang menghormati alam, meninggalkan warisan berupa tanah yang sehat untuk generasi mendatang.
Setya Gustina Riwayat tidak hanya mewariskan jagung. Ia mewariskan sebuah keyakinan bahwa pertanian dan kelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan. Kisahnya adalah pengingat bahwa perubahan besar sering kali dimulai dari satu tindakan kecil, dari satu orang yang berani mewujudkan harapan di ladang jagung hingga menembus pasar ekspor.
Setya bersama Kelompok Tani Rumah Petani Indonesia memilih jagung untuk dikembangkan karena komoditas satu ini tidak terlalu banyak pesaing dan juga memiliki potensi yang sangat besar di daerahnya.
Sumber:
https://www.radioidola.com/2024/setya-gustina-riwayat-petani-milenial-dan-pendiri-rumah-petani-dari-cianjur/
https://sinartani.co.id/tak-berkategori/setya-gustina-riwayat-membawa-jagung-cianjur-go-amerika/